Kehidupan dalam konteks Indonesia sangat menjunjung tinggi prinsip dan nilai perdamaian tanpa pandang bulu, terhadap semua agama, ras, suku dan budaya telah melebur dalam asas kesatuan bhineka tunggal ika tanpa adanya sekat antar keyakinan. Semua saling gotong royong, kasih mengasihi, tolong menolong dan lain sebagainya, semua bentuk keyakinan apapun di bumi pertiwi akan selalu mendorong umatnya untuk senantiasa menciptakan kedamaian demi keharmonisan dan keberlangsungan hidup umat manusia baik dalam ruang lingkup budaya, politik, sosial, agama maupun negara bahkan dunia. Sehingga terciptalah toleransi yang sangat tinggi di seluruh penjuru Nusantara. Hembusan konflik yang terjadi atas nama agama akan sangat berpotensi besar memunculkan stigma negatif terhadap para pemeluknya.
Islam memiliki prinsip dan etika sosial yang luhur dalam hubungan lintas agama. Namun Islam juga melarang keras umatnya menghinakan diri dihadapan orang kafir sebagaimana dikatakan oleh al-Haitami tentang larangan memposisikan non-Muslim di depan ketika berada dalam suatu majlis, karena hal tersebut merupakan bentuk penghinaan diri dihadapan mereka. Berkaca pada masa Nabi, pasca terjadinya konflik tiga agama ditengah masyarakat plural kota madinah, Nabi berhasil menyatukan kerukunan umat beragama di tengah masyarakatnya dengan berbagai kebijaksanaannya. Hal itu merubah kota Madinah yang sebelumnya pecah menjadi kota yang damai dan tenang. Kebijakan Rasulullah tersebut menginspirasi masyarakat luas sehingga pribadinya menjadi panutan seluruh elemen masyarakat dan menjadikan perbedaan sebuah warna indah dalam kedamaian dengan saling menghormati dan menjaga. Seiring waktu kekuatan Islam semakin kuat dan luas, hal itu tampak pada stabilitas Madinah yang baik ditinjau dari external maupun internal dalam merancang sebuah pemerintahan menuju masyarakat Madinah yang damai dan sejahtera.
Catatan penting dalam khazanah pesantren perihal kasih sayang terhadap non-muslim terkonsep pada sub pembahasan muwalah dan ayat yang menerangkan muwalah terbahas dalam beberapa kitab, dua diantaranya terdapat pada kitab Muhktashor fi Tafsir ayatil ahkam dan Jam’ul Jawami’, keduanya terdapat pembahasan tentang larangan berkasih sayang terhadap non-muslim. Sumber permasalahan muncul ketika menempatkan posisi non-muslim pada konteks Indonesia yang barang tentu sudah menjadi keniscayaan dan tidak dapat dihindarkan untuk senantiasa hidup bersama. Maka yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana membangun sebuah negara yang kaya akan perbedaan termasuk perbedaan keyakinan ini berdiri dalam satu kaki menuju Indonesia emas, damai dan sejahtera?. Menjawab problematika dalam rumusan masalah tersebut penulis mencoba menggunakan satu kitab rujukan ulama Nusantara yaitu Syaikh Nawawi al-Bantani dalam kitab tafsirnya Murahu Labid Li Kasyfi Ma’na Al-Qur’an Al-Majid yang penulis telah analisa, relavan dengan konteks perkembangan Indonesia pada era milenial saat ini.
Pembahasan (al-Bahts)
- Memahami Perbedaan
- Memahami Penafsiran
- Rasa cinta di hati non-muslim terhadap muslim jalan menuju Islam
- Gagasan Penerapan Khazanah Pesantren dari Nilai Kebaikan menuju Kesejahteraan
- Aktualisasi Kasih Sayang terhadap Non-Muslim menuju Indonesia Emas
- (الموالاة في حفظ الوطن بالجهاد والإتحاد) : al-Muwalah fi Hifdzil Wathan bi al-Jihad wa al-Ittihad: Muwalah (Kasih sayang, Kesetiaan, Persaudaraan, Kecintaan dan Kebersamaan) pada makna Menjaga Keutuhan Tanah Air dengan Persatuan dan Perjuangan dalam Berbangsa dan Bernegara.
- (الموالاة في مخالفة البشرية لحفظ الوطن) : al-Muwalah fi Mukhalafah al-Basyariyah li Hifdzi al-Wathan: Muwalah (Kasih sayang, Kesetiaan, Persaudaraan, Kecintaan dan Kebersamaan) pada makna Saling Memahami Perbedaan Insan Kemanusiaan dalam menjaga Keutuhan Tanah Air Nusantara.
- (الموالاة في التوسط والتعدل لحفظ الوطن) : al-Muwalah fi al-Tawassuth wa al-Ta‘addul li Hifdzi al-Wathan: Muwalah (Kasih sayang, Kesetiaan, Persaudaraan, Kecintaan dan Kebersamaan) pada makna Cinta Keadilan, Moderat dan Senantiasa Menjadi Penengah diantara Perbedaan demi menjaga Keutuhan Tanah Air Bangsa.
Penutup
Santri Z sebagai generasi unggul, penerus kemajuan bangsa sudah semestinya siap membangun serta mempertahankan kemakmuran tanah air, yang akan selalu menjaga dari gerogotan para perusak bangsa, baik melalui jiwa patriot, pendidikan intelektual maupun terobosan budaya serta kesadaran sosial dengan berkiprah nyata dalam kehidupan bangsa. Harapan penulis sebagai generasi unggul masa kini seharusnya mampu menjadi generasi terbaik dan berkualitas serta menjadi suri tauladan bagi anak-anak kelak menuju Indonesia emas, damai dan sejahtera. Selanjutnya dengan menanamkan jiwa semangat belajar dan menuntut ilmu, berintelektual tinggi diharap mampu membuahkan hasil yang benar-benar memuaskan yang akan menjadi kebanggaan orang tua, masyarakat dan bangsa khususnya untuk terus memaksimalkan usaha demi membawa pada kemajuan bangsa dan negara tercinta diatas perbedaan, perbedaan adalah nilai rasa yang menjadikan Indonesia indah dan berwarna yang akan menjadikan bangsa ini menuju bangsa yang damai, bangsa yang siap menjadi panutan bagi bangsa lain.
Generasi unggul kebanggaan bangsa adalah saya, yang siap menjadi suri tauladan demi kemajuan bangsa dan negara serta berusaha memberikan hal positif bagi lingkungan sekitar, yang selalu tiada kenal lelah untuk belajar, yang berusaha keras untuk selalu menjadi lebih baik disetiap harinya, yang mencintai tanah air karena telah memberikan naungan kenyamanan dan kesejahteraan bagi hidup saya. Saya adalah satu dari jutaan generasi unggul era kini kebanggaan bangsa yang bercita-cita tinggi untuk membawa dan membangun bangsa Indonesia menuju kemakmuran bersama, Indonesia damai, sehatera, Indonesia Emas, Indonesia Jaya.